Kej 23:1-4.9 Mat 9:9-3 Berusahalah Melihat Hal Baik Dalam Diri Orang Lain
Kita cenderung untuk menganggap diri kita lebih baik/benar daripada orang lain. Kita juga merasa tidak nyaman jika harus bergaul dengan orang-orang yang menurut kita kurang baik. Ada banyak pertimbangan di balik sikap ini: takut dianggap jahat seperti orang-orang itu, takut diperlakukan secara tidak baik oleh orang-orang lain, merasa tidak pantas untuk bergaul dengan orang semacam itu.
Matius sesudah penyembuhan orang lumpuh. Sangat menarik! Kalau kisah orang lumpuh, Yesus hanya memberikan pengampunan kepada orang berdosa (Mat 9:2). Hari ini Yesus memanggil dan menerima orang berdosa sebagai murid-Nya (ay. 9). Yesus mendatangi sendiri untuk memanggil orang berdosa (ay. 2a). Yesus berinisiatif untuk mendatangi orang berdosa. Inilah menjadi inti pewartaan hari ini. "Aku datang untuk memanggil orang berdosa" (Mat 9:13).
Apakah Matius mengenal Yesus ketika Yesus memanggilnya? Kita tidak sedang membahas mengenal atau tidak, tetapi bahwa saat Yesus memanggilnya, ia mengiyakan tawaran Yesus. Respon Matius luar biasa. Ketika Matius memutuskan meninggalkan pekerjaannya sebagai pemungut cukai, itu berarti ia harus kehilangan penghasilan. Keputusannya mempertaruhkan masa depan, karena ini merupakan masalah posisi/jabatan. Sebagai pemungut cukai ia dibenci banyak orang Yahudi.
Keputusan untuk mengikuti Yesus bukanlah hal yang menyedihkan tetapi bagi dia merupakan hal yang istimewa. Untuk mengungkapkan kebahagiaan itu, ia mengadakan pesta. Tindakan Yesus makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa merupakan hal yang menarik. Kedua kelompok ini sering muncul bersama. Secara sosial mereka sama-sama memiliki pekerjaan yang haram termasuk kategori orang berdosa, pelacur, dll.
Kehadiran Yesus selalu menjadi kontroversi di kalangan Ahli Taurat dan orang Farisi. Yesus selalu di lihat sebagai batu sandungan bagi mereka karena rasa iri, benci, merasa tersaingi. Cara berpikir mereka sebenarnya sudah menutup diri terhadap orang lain. Sekalipun ada sesuatu yang baik dalam diri orang semuanya pasti negatif. Hidup berumah tangga atau sebagai religus dalam komunitas ada saja pribadi seperti itu.
Beragam kecaman keras yang dilakukan oleh Yesus dalam menanggapi reaksi mereka. Namun Yesus tetap menjalani misiNya. Kesadaran terhadap misi inilah yang membuat Yesus tidak risih bergaul dengan orang berdosa. Dia mau menjangkau mereka, sekalipun krebilitasNya sebagai guru rohani mungkin dipertanyakan dan Dia sendiri menerima kritikan yang keras dari banyak orang. Siapkah kita menerima kritikan?

Comments
Post a Comment